
Friday, October 14, 2011
Tiket Murah .. Bercuti ke Pekan Baru

Perancangan ke Pakistan, Berbaloi ker..??
Monday, July 4, 2011
Kenapa Angka 4 Romawi Jam Gadang Bukittinggi Bertuliskan IIII ?
Kenapa Angka 4 Romawi Jam Gadang Bukittinggi Bertuliskan IIII ?
Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.
Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.
Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.
“Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami yang tiap hari bekerja sebagai tukang foto dan penjual balon di sini. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang,” ujar Afrizal, salah seorang tukang potret amatir di sekitar Jam Gadang.
Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkutan kota ke lokasi Jam Gadang.
Lebih Jauh Tentang Jam Gadang
Angka-angka pada Jam Gadang banyak media mengatakan memiliki keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII.
Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.
Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih diliputi misteri.
Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih “menantang” dan menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang lainnya.
Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam tersebut selesai.
Jika dikaji apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini tampaknya perlu dikesampingkan.
Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.
Jam Gadang ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi ketika
Angka IIII bukanlah sebuah keanehan
Keberadaan angka IIII bukan hanya terdapat di Jam Gadang saja, berikut gambar jam yang memiliki angka IIII bukan IV.
Sumber gambar dapat dilihat di : http://www.electrictime.com/
Berdasarkan Wikipedia, sejarah penulisan angka IIII tersebut berdasarkan kepada King Louis XIV (5 September 1638 - 1 September 1715) yang meminta kepada seorang untuk membuat sebuah jam baginya. Pembuat jam memberi nomor pada setiap jam sesuai dengan aturan angka Romawi. Setelah melihat jam yang diberikan kepadanya, Raja tidak setuju dengan penulisan IV sebagai angka "4" dengan alasan ketidakseimbangan visual.
Menurutnya, angka VIII ada di seberang angka IV. Jika ditulis IV, maka ada ketidakseimbangan secara visual dengan VIII yang lebih berat. Oleh karena itu, Louis XIV meminta agar diubah IV menjadi IIII sehingga lebih seimbang dengan VIII yang ada di seberangnya. Selain itu, jika dikaitkan dengan angka XII, maka keseimbangan itu akan lebih baik.
Akan tetap yang menjadi pertanyaannya mengapa Raja yang memerintahkan perubahan itu lebih dikenal dengan Louis XIV daripada Louis XIIII, sesuai dengan permintaannya kepada pembuat jam.
Dari sebuah situs lain... yang berjudulkan "FAQ: Roman IIII vs. IV on Clock Dials" dapat dilihat disana, Seorang yang bernama Milham mengatakan bahwa penjelasan seperti di atas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penulisan IIII untuk angka "4" telah ada jauh sebelum Louis XIV. Dari wikipedia bahwa penomoran Romawi memang bervariasi dari awalnya. Pada masa awal angka "4" memang ditulis IIII dengan empat huruf I.
Penulisan "4" menjadi IV hanya terjadi di masa modern, yang menunjukkan bahwa "empat adalah kurang satu dari lima". Manuskrip Forme of Cury (1390) menggunakan IX untuk "9" namun IIII untuk "4". Sedangkan dokumen lain dari manuskrip yang sama di tahun 1380 menggunakan IX dan IV untuk "9" dan "4", berturut-turut.
Lebih lanjut, ada manuskrip ketiga yang menggunakan IX untuk "9" dan campuran antara IIII dan IV untuk "4". Angka "5" juga ditemukan disimbolkan dengan IIIII, IIX untuk "8" dan VV, bukannya X, untuk "10".
Kesaksian lain dari situs tersebut, Franks, menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat jam matahari yang dibuat sebelum abad ke-19 yang menggunakan angka IV, semuanya IIII. Sehingga, para ahli jam heran dengan arsitek masa ini yang membuat jam menara besar-besar menulis "4" dengan IV, bukan IIII. Salah satu yang menggunakan IV, bukan IIII, adalah Big Ben. Jadi, implisit dikatakan bahwa Big Ben telah melanggar konvensi per-jam-an!
Penjelasan lain cukup menarik. Harvey, di situs yang sama, mengatakan bahwa IV adalah singkatan dari dewa Romawi, Jupiter, yang ditulis IVPPITER. Jadi, jika IV diletakkan di dalam jam bangsa Romawi, maka jam itu akan bertuliskan 1, 2, 3, DEWA, 5...
Jika dilihat dari kacamata bangsa Romawi, mungkin mereka tidak ingin nama tuhan mereka ditaruh di jam seperti itu. Namun, kalau dilihat dari kacamata Louis XIV , maka mungkin ia tidak ingin ada nama dewa pagan di permukaan jam. Mana yang benar ? kita tidak tahu.
Masih di situs yang sama, menurut Mialki, alasan penggunaan IIII bukan IV semata-mata masalah teknis. Jika IV yang digunakan, maka pandai besi harus membuat huruf I sebanyak 16 batang, huruf X sebanyak 4 batang, dan V sebanyak 5 batang. Masalahnya, pada masa itu, pandai besi hanya bisa ekonomis kalau membuat besi dalam kelipatan empat. Jika ditulis IV untuk "4", maka akan ada satu 3 batang huruf V yang terbuang. Sementara itu, jika "4" ditulis IIII, maka huruf V hanya dibuat empat batang--dengan demikian ekonomis--dan huruf I sebanyak 20 batang--juga ekonomis.
Sekali lagi, mana yang benar dari penjelasan ini ? Belum ada yang pasti. Namun, satu yang kita tahu sekarang adalah bahwa angka IIII di Jam Gadang bukanlah sesuatu yang unik, aneh atau dianggap sebagai misteri yang dikait-kaitkan dengan takhayul. Justru dengan angka IIII itulah menjadikan sebuah bukti bahwa bangsa Eropa (Belanda) memang menjajah kita dulu dan tidak memberi kita barang yang jelek, justru yang bagus yang masih dipergunakan dan dibanggakan hingga sekarang.
Lobang Jepang Bukittinggi
Lobang Jepang Bukittinggi
Karena Bukittinggi yang sangat strategis, terletak di tengah – tengah pulau sumatera, maka penjajah jepang menetapkan kota bukittinggi sebagai pusat komando pertahanan tentara jepang di sumatera (seiko sikikan kakka) yang dipimpin oleh jenderal watanabe.
Sebagai kubu pertahanan militer bagi jepang dibuatlah terowongan dibawah jantung Kota Bukittinggi, disamping berfungsi sebagai pertahanan juga dipersiapkan sebagai penyimpan amunisi, barak, ruang makan, rumah sakit, ruang sidang dan dapur, yang jumlah keseluruhan ruangan 27 buah dan merupakan satu komplek lengkap, seperti denah yang dapat dilihat pada dinding pintu masuk.
Panjang lobang yang terdapat dilokasi panorama ini lebih kurang 1400 meter, sedangkan panjang keseluruhan yang berada di bawah kota bukittinggi diperkirakan lebih kurang sekitar 5000 meter, dengan demikian yang terawat/terpelihara baru 30% dari lobang yang ada.
Kegunaan utama dari lobang jepang ini adalah sebagai basis pertahanan militer penjajah jepang dari serangan sekutu maka pembangunannya sangat dirahasiakan, dan tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan lobang jepang ini mulai dibangun. Hanya dapat diperkirakan beberapa bulan sesudah maret 1942, saat jepang merebut kota bukittinggi dari tangan pemerintah Belanda.
Tenaga kerja kasar untuk mengali lobang ini diambil dari orang – orang indonesia yang ditangkap dari daerah lain, seperti dari pulau Jawa, Kalimantan, Sumatera Selatan dan lain sebagainya, sedangkan hasil tangkapan dari bukittinggi sendiri di bawa pula ke daetrah lain untuk dipekerja paksakan pula pada proyek – proyek lainnya, seperti le loge untuk m,embuat jalan kereta api yang akan menghubungkan muaro sijunjung dengan pekanbaru riau. Namun pekerjaan ini tidak kunjung slesai, karena jepang keburu kalah ditangan Tentara Sekutu.
Tenaga teknis dalam pembangunan lobang ini diambilkan dari orang – orang indonesia yang bekerja di tambang batu bara ombilin sawahlunto yang berasal dari pulau Jawa.
Semua tenaga kerja kasar tidak sati orangpun yang dapat menyelamatkan diri, semuanya meningal disebabkan kekurangan makanan dan siksaan dari tentara jepang. Sehingga kerahasiaan lobang tetap terpelihara.
Sekalipun lobang ini dapat diselesaikan, namun belum sempat dimanfaatkan secara sempurna, karena jepang keburu bertekuk lutut kepada tentara sekutu akibat dua buah atom yang dijatuhkan tentara sekutu di Kota Nagasaki dan Hirosima pada tanggal 7 dan 8 agustus 1945, dan berlanjut dengan diproklamirkannya kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 agustus 1945 oleh Soekarno – Hatta.
Saat ini Lobang Jepang ini cukup ramai dikunjungi oleh wisatawan baik Mancanegara maupun nusantara dan merupakan objek wisata favorite di bukittinggi dan bahkan Sumatera Barat.
Kondisi Dalam Terowongan
Dari pintu gerbang, kita menurunbi anak tangga sebanyak 135 buah,
apabila anak tangga ini tingginya rata – rata 20 cm, dengan demikian 135 anak tangga berarti kita telah turun setinggi 27 m. Jika kita bandingkan lagi tempat kita berdiri sekarang dengan jalan yang ada diatas kita, mempunyai perbedaan tinggi lebih kurang 5 m. Dari perhitungan ini diketahuilah bahwa dasar lobang berkisar antara 30 sampai 40 m dari permukaan tanah. Kedalaman ini sudah cukup aman dinilai oleh jepang terhadap serangan udara dari tentara sekutu.
Trans Studio - Section Studio Central
BANDUNG opens TRANS STUDIO LARGEST INDOOR THEME PARK
BANDUNG opens TRANS STUDIO LARGEST INDOOR THEME PARK
Posted on 12 Jun 2011 at 11:01
Bandung will see the opening of Trans Studio’s largest Indoor Theme Park yet, after its success in Makassar, South Sulawesi. Advertised as “An Integrated World Class Family Entertainment Center”, its launch on Saturday, 18 June, is perfectly timed to take advantage of the long school holidays in Indonesia.
It is nearly assured that Trans Studio will be jammed with crowds from Jakarta, who normally seek the cool mountain air of Bandung anyway during weekends. Bandung has also grown into a major tourist destination for Malaysians with more flights offered between Kuala Lumpur and Bandung direct.
Some of the Trans Studio rides include the Yamaha Race Coaster. This is one of 3 top extreme roller coasters in the world with a speed of 130 km/hour racing down from a height of 49 meters.
There is the Giant Swing which swings to a height of 38 meter; the Trans Car offers racing cars along a 7 hectares track; Vertigo spins riders at a 45 m. height; 4D Marvel superheroes has the Hulk, Spiderman , Fantastic 4 and others performing.
Then there is the World of Giants, where you can feel as if you are in Liliput land; there are the Dragon Rider, Jack and the Beanstalk and many more exciting rides.
For the more serious-minded child, Trans Studio offers an insight into TV and media production; the Lost City will give participants the sensation of adventure similar to Indiana Jones, passing two waterfalls, and of course there is a large Amphitheatre presenting international and Indonesian performances, musical shows and top bands.
A through ticket costs Rp. 200,000 per person.
Bandung is easily accessible from Jakarta in a comfortable 2 hour drive by the Cipularang toll road. Wings Air also serves Bandung-Yogyakarta, while Bandung is also served by more domestic flights on Merpati Nusantara Airlines, Srivijaya Air and Susi Air
Internationally, Malaysian Airlines flies Kuala Lumpur-Bandung, once daily. Indonesia Air Asia serves the route twice daily, and Firefly plans to open Johor Bahru – Bandung starting 16 August.
Trans Studio Bandung is located within the Bandung Supermal Complex,
Jalan Gatot Subroto 289
Tel : +6222 9109999
Fax: +6222 9109998
Tuesday, April 12, 2011
Jonker walk siar kaki yang menarik
Jonker Street terdiri daripada majoriti kaum baba nyonya Melaka berbangsa cina. Disebabkan itulah kesemua seni bentuk rumah dan kedai ala ala china.
Saya amat meminati setiap seni dan bentuk tingkap pada setiap rumah kedai di Jonker Street kerana ia amat unik. Kerajaan negeri Melaka kini telah membaikpulih keadaan rumah kedsi di sekitar Jonker Street bagi menarik minat pelancong.
Pada sebelah petang Jonker Street akan ditutup menjadi Jonker Walk, bagi pelancong yang datang boleh lah berjalan di sepanjang Jonker Walk.
Pelbagai jualan dijual antaranya t-shirt, barangan cendermata, makanan, dan barangan antik. Ada juga yang menjual haiwan peliharaan seperti 'sugar glider', 'puppy', 'hamster', dan banyak lagi.
Pelancong asing yang bukwn beragama islam boleh beristirehat di sepanjang Jonker Street kerana terdapat banyak pub, bistro dan kedai makanan cina.
Friday, March 25, 2011
Tonton Theater LAT Kampung Boy


Seat Status Summary
| Ticket Type | Sold | Available |
| N/A | 0 / 44 Seats | 0.00% | 44 / 44 Seats |
| RM40.00 | 298 / 302 Seats | 98.68% | 4 / 302 Seats |
| RM70.00 | 238 / 246 Seats | 96.75% | 8 / 246 Seats |
| RM100.00 | 62 / 62 Seats | 100.00% | 0 / 62 Seats |
| RM120.00 | 169 / 190 Seats | 88.95% | 21 / 190 Seats |
| RM160.00 | 22 / 74 Seats | 29.73% | 52 / 74 Seats |
| RM200.00 | 177 / 210 Seats | 84.29% | 33 / 210 Seats |
| RM230.00 | 268 / 271 Seats | 98.89% | 3 / 271 Seats |
| RM300.00 | 12 / 17 Seats | 70.59% | 5 / 17 Seats |

Wednesday, March 23, 2011
Riadah di Pavillion, Kuala Lumpur




Monday, March 14, 2011
JELAJAH GUA TEMPURUNG


Cadangan kali ini ingin menjelajah ke dalam perut Gua Tempurung yang terletak Lembah Tempurung berdekatan Gopeng, Perak. Jarak 25KM dari bandar Ipoh, Perak. Gua Tempurung dijumpai pada tahun 1987 lagi. Woow.. lama dah tue kan..
Detail mengenai Gua Tempurung : -
Classification: Karst cave. It is a cave of marble limestone (calcite calcium) of the Kinta limestone type.
(info dari gua tempurung.com)
Terdapat 4 jenis jelajah yang ditawarkan oleh pihak guatempurung.com iaitu 'Tour 1', 'Tour 2', tour 3' dan 'Tour 4'.

Kadar bayaran seperti berikut :
| Tour 1: Golden Flowstone | |
| Duration | 40 minutes (from entrance to Golden Flowstone at platform 3 and return) |
| Time | Tours are conducted from 9am to 4pm (last entry at 4pm) |
| Fees | RM6.00 (Adult) RM2.50 (Child aged 6 to 12 years) RM3.00 (Senior Citizen aged 60 years and above) |
| What to See and Do | As you enter through the walkway on stilts over the cave river, you will see layers of white marble stone slabs and walls with different hues. Walking deeper to the dimmed showcase gallery, you will be struck by the beauty of the Golden Flowstone. Standing at a height of 90 metres, Golden Flowstone describes the sloping and wavering floor and wall of the cave which has a golden hue when water flows over it and illuminated by gentle light. Stalagmites and stalactites on walls and ceilings take various astounding sizes and shapes. Your eyes seem to play tricks on you when images of dolphin, jellyfish, tiger, lion, cow's head, seahorse, old man, Lord of Buddha and Zorro's eye come into view. |
| Tour 2: Top of the World | |
| Duration | 1 hour 45 minutes (from entrance to Top of the World at platform 5 and return) |
| Time | Tours are conducted from 9am to 3pm (last entry at 3pm) |
| Fees | RM9.00 (Adult) RM4.50 (Child aged 6 to 12 years) RM3.00 (Senior Citizen aged 60 years and above) Minimum No. of Persons: 5 Adults |
| What to See and Do | You get to enjoy all the sights in Tour 1 and lots more when you climb higher to platform 5, standing 120 metres high. By then, you would have climbed 640 steps! Take a breather at the Wind Tunnel and feel the cool breeze before you proceed to the Gergasi (Giant) Cavern, which holds a huge column that looks like a space ship. Next, you will reach the Tin Mine Cavern where you will have a peek into tin mining activities that took place in the old days. Then Alam (Universe) Cavern comes into view. There, you will see a slender stalactite called Tongkat (Walking Stick or Cane) before coming across the Fallen Warrior and Battlefield Cavern with an amazing formation that looks like a warrior falling down in a battlefield. At the end of the journey, you will be rewarded with a rainbow of colours from sunshine reflected off the cave walls. For the more adventurous, choose either Tour 3 or Tour 4 under both Dry and Wet Adventure Tour. The tours involving Wet River Adventure are however subject to weather conditions. |
| Tour 3: Top of the World & Short River Adventure | |
| Duration | 2 ½ hours (a journey of about 2.4km from the entrance to Golden Flowstone, Top of the World and return through the underground river) |
| Time | Tours are conducted from 9am to 12 noon (last entry at 12 noon) |
| Fees | RM11.00 (Adult) RM6.00 (Child aged 6 to 12 years) RM6.00 (Senior Citizen aged 60 years and above) Minimum No. of Persons: 8 Adults |
| What to See and Do | Not only will you see the Golden Flowstone and climb to the Top of the World, you will also go down 230 steps and get wet in the underground river! You will have lots of fun crawling through holes and sliding down slippery stones before getting out to be greeted by the beautiful sight of the greenery outside. |
| Tour 4: Grand Tour | |
| Duration | 3 ½ hours (a complete journey of about 3.8km from the entrance to Golden Flowstone, Top of the World and to the end of the cave (East) and return through the underground river) |
| Time | Tours are conducted from 9am to 11am (last entry at 11am) |
| Fees | RM22.00 (Adult) RM11.00 (Child aged 6 to 12 years) RM6.00 (Senior Citizen aged 60 years and above) Minimum No. of Persons: 8 Adults |
| What to See and Do | Expect thrilling moments as you have the adrenalin-pumping spelunking adventure of your life time. You will wade through the underground river that reaches chest level at certain stretches, duck-walk and crawl through holes, climb almost vertical walls and slide down slippery stones. The physical challenges will be worth it. You get to see lots of fascinating rock formations - stalactites, stalagmites, multi-tier ponds, volcano-like rocks, glittering crystal-covered walls and lots more. Of course, the Golden Flowstone and the Top of the World Caverns are included in this tour that also takes you to the eastern side of the cave facing the North-South Expressway. Your return journey will take you entirely through the underground river. |
(*info dari guatempurung.com)
Kadar bayaran masuk amat murah dan berbaloi. Bagi yang ingin membawa anak-anak boleh mencuba tour 1 dengan melalui laluan yang telah disediakan. Sambil beriadah menyihatkan badan sambil kita melihat kejadian yang Allah telah ciptakan.
Hanya orang mampu berfikir dapat mengagung kejadian Nya.
Sekian.
mohd adree badri
Tuesday, March 8, 2011
Aktiviti Percutian dgn Buadget RM300
Thursday, February 17, 2011
Visit Surabaya
| |||
As the mute witness, buildings were historic the legacy of the colonization period gave special nuances for the beauty of Surabaya City . The blend between the dream country, the legend, historic and metropolitan, all of it could be enjoyed in the form of beautiful and interesting tourist attractions. Various tourist attraction kinds could be encountered in Surabaya . It will be spend several days to enjoy it. The Melati hotel was suitable for the wanderer. Here also provided several five-star hotels. We could just walk around at the shopping centre. Here you could shop, enjoyed the entertainment while enjoying typical Surabaya food. | |
The recreation tour here was watching the sun rise, boating in the Kenjeran Coast and in the Kalimas river, visited the zoo, the amusement park, playing golf, and watched the performance. In the night we could enjoy the nightlife in the restaurant, the pub, karaoke and the discotheque. The valuable history tour were including the Dutch old building like Internatio building, Grahadi building, Mojopahit Hotel, Pemuda Hall, town hall, and etc. To know the struggle neroism to seize independence had the Tugu Pahlawan monument and the Submarine Monument . The artefact and the legacy archeology could be united in the Mpu Tantular Museum . In the centre of the city also had the legacy of the Singosari kingdom king that is Joko Dolog. The main valuable tourist attraction religious is the Ampel mosque region. In this region established the old mosque that was surrounded by the China building, Arabian, in fact Europe with culture that associated well. The art object and souvenir could be bought in Art Shop, water port and the Pemuda hall Building . This building was also the centre of the art activity and the culture in Surabaya . |
Aceh After Tsunami
Before the tsunami and the peace Memorandum of Understanding, it could be said that Aceh was not developing at all. During the armed conflict which lasted from 1974 until 2005, tourism was completely ignored and one could safely say that almost nothing happened in terms of tourism although there were in fact a few friendship visits. Local people and those from outside thought Aceh had a lot of tourist potential because of its beautiful beaches and the relatively untouched remains and relics of the sultanate and colonial eras.
After the tsunami, Aceh started working on things that could restore prosperity to the people of Banda Aceh. To do that Banda Aceh cooperates with Aceh Besar and Sabang through a scheme called Basajan (Banda Aceh, Sabang, Janto – the capital of Aceh Besar).
Tourism in Banda Aceh places emphasis on spiritual, cultural and tsunami tourism. Aceh, as a region that has adopted the the Islamic sharia law and has diverse cultures, has become a special attraction for domestic as well as international tourists such as those from Malaysia. The tsunami natural disaster that struck Banda Aceh created its own uniquely dramatic monuments: PLTD Apung, mass graves, and the boat on top of a house are a few of the places you can visit.
In Aceh Besar there is adventure tourism allowing visitors to enjoy natural challenges or take a look places where GAM people went into hiding, to see where they lived, how they lived, and what they did.
Sabang will become the centre of marine tourism thanks to the beautiful and very widely known Weh Island and Rubiah Island, scuba diving sites that some people say are superior to Bunaken. The waters are very clear and there is diversity of fish species. These three regions could be offered to tourists in one package. So, actually there are a lot of things to draw people to visit Banda Aceh.
Up till now, people have visited Banda Aceh for only two or three days at a time, but the Basajan scheme is expected to extend the length of stays. Through the program Visit Banda Aceh, tourists will fill up the hotels and there will be an economic knock on effect for the population such as the increase in demands for prawns, fish, vegetables etc. The same goes for demand for transportation, traditional souvenirs and food that in turn will help small industries in Aceh to prosper. This will cause a multiplier effect which will energize and lift the population’s livelihoods.
The adoption of the Islamic sharia laws will not restrict tourists as they explore Aceh, because sharia is only applicable to followers of Islam, and not outsiders. Tourists visiting the region will feel safe and comfortable; for example, they do not have to wear veils while in Banda Aceh.
In supporting Visit Banda Aceh 2011, major events such as Banda Aceh Birthday Celebration, Taman Sari Festival, Baiturrahman Festival and Aceh Cultural Week will be held.
Developments that support the tourism industry will also be implemented continuously such as the tsunami museum, the floating PLTD and the tsunami site house. Renovation is also carried out on the tombs of famous ulamas (Islamic scholars/teachers) and kings and Hotel Aceh where President Soekarno accepted the money from the people of Aceh to buy “RI-1”, the Republic of Indonesia’s first aircraft. We hope that with this vision one day Banda Aceh will become one of Indonesia’s great tourist destinations.
Place to go ..
This is one of the most beautiful masjid in the world, Masjid Raya Baiturrahmaan, located in Banda Aceh,the capital city of Aceh – Indonesia.

Lampuuk beach is located at Lhoknga, Aceh Besar. You can Rent a Car to go there or you can choose “Labi-Labi” as public car transportation. From City Center Banda Aceh it takes about 30 minutes to get there.Fares of Labi-Labi is around IDR 100.000 for one trip. And when you arrived at Lampuuk, You must pay ticket, IDR 10.000 per person to enter Lampuuk Beach.
The Acehnese breakfast staple is
Nasi Gurih
(rice cooked in coconut milk) and lontong, sold in coffee shops everywhere. Fares between : IDR 6.000 – 10.000 depend on your menu. When dinner, you can find
Nasi Goreng

,
Mie Aceh
or Food stalls, Aceh and Padang (Minang) restaurants are open across part of town (Fares IDR 6.000 – 20.000), and fruit carts are ubiquitous. Anyway, you can find fast food like KFC,A&W or Pizza HUT around Simpang 5, Banda Aceh.
sumber : http://travelaceh.com/tag/aceh-tourism


